Catatan Konyol Perantau Dodol

Ini cerita lama. Cerita absurd gue saat masih oon-oon nya.

Kejadian ini bermula 4 tahun lalu di penghujung tahun 2012 di kota kembang yang makin hari makin kasep.

Gue yang pada saat itu masih berstatus sebagai jobseeker, pergi ke Bandung bersama kakak cewek gue, Dila namanya. Bedanya sama gue, Dila kesini dengan tujuan untuk liburan E

Enak banget ya, liburan, hore-hore, ngabisin duit.

b
Kekinian, kita berangkatnya naik iniii.

Disana kami “ditampung” sama ponakannya Papa yang memang sudah cukup lama menetap di Bandung. Si kakak sudah memiliki 3 orang anak, tiga-tiganya laki-laki, anak terakhir merupakan anak kembar  tidak identik.

Selain si kakak, disana ada abang kandung gue yang juga sudah bertahun-tahun merantau di Bandung, hanya saja dia masih nge-kos bareng temen-temennya.

Selama mencari pekerjaan di Bandung, gue dibekali sepeda motor sama si abang.

Baik banget kan abang gue. Ya doonk, syapa dulu adeknya…

Nah, pada suatu hari yang cerah itu, gue dan Dila bermaksud untuk mencuci motor. Maklum, hampir tiap pekan nemenin gue wara-wiri masukin lamaran, jadi kucel banget itu motor. Dengan berbekal uang 20 ribu, kami pergi ke tempat pencucian yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah.

Kenapa cuma bawa uang 20 ribu?

Asumsinya begini. Cuci motor cuma 10 ribu, berarti masih ada lebih 10 ribu lagi kalo mau beli apa-apa. Soalnya makanan di Bandung pun terbilang murah. Jadi aman-aman sajalah kalau bawa uang segitu.

Dengan pede-nya, kami langsung gaspol ke TKP. Suasana di tempat pencucian juga nggak rame-rame banget. Sesampainya disana, motor kami langsung dicuci sama petugas pencucian. Selain motor gue, juga ada 3 motor lagi yang dalam proses pengerjaan.

Lima menit, sepuluh menit berlalu, si motor belum ada tanda-tanda akan selesai dicuci. Tiba-tiba, Dila ngajakin gue untuk pergi makan bubur ayam dulu di terminal yang kira-kira berjarak 1 kilo dari tempat pencucian.

“Eh ca, makan bubur ayam dulu yuk”

“Lha,  uang kita kan pas-pasan aja, nggak cukup kalo beli bubur ayam mah”

“Tenang aja, sekarang makan bubur ayam dulu, nanti buat bayar cuci motornya kita jemput lagi ke rumah,” kata Dila menimpali.

Gue cuma angguk-angguk nggak yakin.

Sebelumnya, kami pernah makan bubur ayam keliling di depan rumah satu mangkoknya cuma 6 ribu. Kalo dihitung-hitung uang yang kami bawa lebih dari cukup untuk makan bubur ayam 2 mangkok. Tanpa pikir panjang, kami pun langsung bergegas ke terminal dengan berjalan kaki.

Perjalanan ke terminal pun kami tempuh lebih kurang 15 menit. Melewati jalan besar, dengan lampu merah yang selalu menimbulkan kemacetan panjang nggak ada ujungnya.

Satu hal yang gue suka dari Bandung adalah masyarakatnya yang ramah. Walaupun setiap hari menghadapi macet, jarang sekali orang-orang tersulut emosi karena padatnya jalanan. Maklum, sebagai pengendara sepeda motor, gue juga merasakan emosi yang kadang tidak stabil setelah kita berada di jalan.

Pernah suatu ketika saat gue pergi memasukkan lamaran, ditengah jalan ada sebuah motor dan becak bergesekan. Dan yang membuat gue kagum adalah, pengendara motor tidak tampak sewot sama sekali, malahan dia mengangguk sambil tersenyum pada pengendara becak. Padahal yang salah adalah Bapak pengendara becak karena nggak ngasih kode dulu waktu mau belok.

Oke, back to cerita bubur ayam.

Sesampainya di TKP, kami langsung memesan 2 mangkok bubur ayam. Sambil mencari tempat, pelayannya pun menawarkan kami untuk pesan teh manis.

“Teh, sekalian pesan teh manis?”

Sambil celingak-celinguk mencari tempat, gue mengiyakan aja karena dari yang gue lihat, pengunjung yang ada disana pada minum teh manis semua. Belakangan gue tau, kalo ternyata itu bukan teh manis, tapi teh goyang, air putih yang dicelupin teh tanpa dikasi gula dan itu gratis.

“Boleh Aa’, tapi manisnya sedeng aja ya,” dengan logat sunda yang dimirip-miripin.

“Oke teh,” si Aa’ pun berbalik segera membuatkan teh hangat untuk kami.

Karena kondisi yang ramai, akhirnya kami pun duduk ditempat yang agak dekat dengan kasir. Seperti tempat bubur ayam pada umumnya, banyak meja panjang disusun berjejer, dipadu dengan kursi plastik warna warni. Diatas meja tersedia tempat untuk meletakkan sendok, dan beberapa piring yang berisi kerupuk dan aneka gorengan. Tak lupa sebotol kecap dan saus disediakan untuk pengunjung.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya bubur ayam yang dipesan datang juga. Gue langsung ngiler, karena aroma sedapnya langsung menguap diantara kami. Sepiring bubur ayam dengan kacang kedelai dan ayam suir-nya yang banyak, disiram kuah dan kecap yang terasa pas dimulut, ditambah lagi taburan seledri yang menambah aroma wangi serta topping kerupuk yang tak lupa dihidangkan.

infokulinerbandungceritaperutlengkapbuburayamcianjurpuncak1
Enak banget kan iniii..

Ah, nikmat sekali.

Tanpa basa-basi, gue langsung mencicipi bubur ayam yang sedap itu.

Suapan pertama terasa enak banget.

Saat suapan kedua, ada pembeli yang telah selesai dan berniat untuk membayar.

“Bubur ayam 2, teh manis 2, tambah kerupuk 1,” kata bapak-bapak bertubuh tambun di depan gue.

“Semuanya jadi 25 ribu Pak,” kasir yang duduk manis dari tadi menyebutkan jumlah uang yang harus dibayar si Bapak.

Wait, wait, 25 ribu?? otak gue langsung kayang.

Kata-kata itu terdengar jelas dikuping gue, walau ditutupin hijab sekalipun.

Badan gue mendadak panas, kuping gue terasa gatal, dan perut gue terasa mules.

Dila pun sama, dia langsung pingsan.~~ Becanda ding.

“Ca, gimana nih, uang kita kurang, aduuuh bikin malu aja,” Dila ngomong dengan muka pucat.

“Aduh, gimana  ya, yaudah gue jemput uang dulu kerumah, sambil loe makan, tapi makannya jangan cepet-cepet, slow motion aja”

“Ih, gue takut kalo tinggal sendirian,” Dila malah merengek sama gue.

“Biar gue aja yang pulang, loe makan aja dulu, yang santai,” Dila menambahkan.

“Humm, yaudah, tapi loe cepet ya, jangan kelamaan, nanti yang dagang heran lagi loe nggak balik-balik,” ucap gue sedikit berbisik.

Dengan sigap, Dila pun berjalan melebihi kecepatan cahaya, berharap kalo rumah kami cuma tetanggaan sama kedai bubur ayam.

Setelah Dila cabut, gue langsung acting pura-pura lahap tapi nyendok buburnya dikit banget. Lima menit berlalu, si Aa’ yang bikinin teh anget pun mulai ngelirik ke arah gue. Mungkin dia pikir kalo si Dila coba kabur, nggak jadi makan bubur ayam dan beberapa menit setelah itu giliran gue yang kabur lewat pintu samping.

Sepuluh menit berlalu, belum ada tanda-tanda kemunculan kakak gue itu. Padahal bubur ayam di mangkok hampir tinggal kuahnya aja. Gue mulai khawatir, jangan-jangan itu anak nggak niat balik buat “nyelametin” gue, mana abang-abang yang dagang mulai curiga lagi.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Dila datang juga. Lega sudah perasaan gue. Cepirit yang tadinya gue tahan langsung keluar, teh manis yang dari tadi nggak gue sentuh langsung gue teguk sampe kering.

“Loe kok lama banget sih”

“Lama apaan, ini juga udah ngebut jalannya, mana panas, rame angkot,” jawab Dila sambil kipas -kipas.

“Yaudah-yaudah, yang penting loe udah balik kesini, sekarang makan buburnya, keburu dingin”

Dengan lahap Dila pun menyantap bubur ayam yang udah separo dingin itu. Sementara si Aa’ yang dari tadi ngeliatin gue kembali fokus melayani pembeli yang lain.

Dalam perjalanan pulang, kami cuma bisa ketawa mengingat kedodolan kami masing-masing. Beberapa waktu setelah itu, pengalaman konyol ini baru gue ceritain ke si abang (karena malu pastinya), sontak dia pun  ngakak sejadi-jadinya.

Dari pengalaman diatas gue berkaca, kalo mau keluar rumah jangan bawa uang pas-pasan aja, karena kita yang berniat tetap Tuhan yang berkehendak. Contohnya ya seperti cerita diatas, gue niatnya cuma mau cuci motor, eh malah terdampar di tukang bubur ayam dengan uang minim.

Pesan gue, save your money, save your life.:)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s