Frightened

Kadang, ada banyak ketakutan-ketakutan dalam diriku saat memutuskan untuk memilihmu. Keputusan yang pada awalnya merupakan permintaan dari orang tuaku.

Pada hari itu, beliau mengatakan bahwa orang tuamu memintaku untuk menjadi calon menantunya. Aku terkejut, sungguh. Merasa tidak pantas untuk masuk ke dalam keluarga kalian.

Mereka menginginkan kita bersanding di pelaminan, memberikan cucu-cucu yang lucu karena orang tuamu telah menganggapku sebagai anak sendiri.ย Dan mereka berharap, persahabatan yang sudah mereka jalin dari dulu dapat lebih dieratkan dengan adanya pernikahan kita.

Aku jujur belum tau kamu begitu banyak. Kita pun hanya pernah bertemu satu dua kaliย waktu aku berlebaran ke rumahmu, itu pun umur kita baru seumuran anak SD. Tentulah, ingatan tentangmu belum begitu banyak, apalagi mengenalmu dengan baik. Bahkan sekarang kamu tidak berada dikota yang sama denganku, satu pulau saja tidak. Tapi orang tuamu menginginkan kita untuk mengenal dulu satu sama lain. Kalau berjodoh kita pasti bertemu, begitu kata orang tuamu.

Aku pun mengiyakan. Dan pada akhir bulan ketiga di tahun 2016 kita memulai komunikasi untuk pertama kalinya.

Yah, awalnya ada rasa kikuk disana. Jujur, aku tidak pernah begini sebelumnya. Karena aku adalah orang yang paling anti berkomunikasi dengan orang yang belum ku kenal via ponsel. Aku lebih suka dan nyaman berkomunikasi pertama kali dengan orang yang tidak ku kenal dengan cara bertatap muka. Lebih nyaman saja.

U know what lah, jaman sekarang penipuan via facebook misalnya sudah sangat banyak, ibarat jamur yang tumbuh di musim hujan. Seperti menghabiskan sisa umur dengan sia-sia menurutku.

Siang itu kamu yang duluan menyapaku via BBM. Ada rasa semut menggelitik di perutku, aku agak bingung menjawab apa. Kuberanikan diri dan akhirnya mengalir juga percakapan kita siang itu. Berbicara tentang pekerjaan masing-masing, tentang masa kanak-kanak yang ternyata kita pernah bertemu, atau tentang masa depan yang kamu harapkan sesuai dengan keinginan orang tuamu juga.

Dan setelah hari itu, ada banyak cerita tentang kamu yang siap aku dengarkan setiap kali kamu menghubungiku.

Oya, kalau dihitung-hitung sudah hampir setahun sajaย sejak kita kenal pertama kali. Komplit juga rasa yang kamu ciptakan. Ada kesal karena BBM lama dibalas, ada lega karena akhirnya kamu membalas pesanku, disamping kamu juga memberi tau alasan dari lamanya kamu membalas pesan-pesanku itu. Ada rasa gembira tak terhingga saat kita video call-an pertama kali. Lucu, lucu sekali.

Satu hal yang selalu menjadi pertanyaan, masih ada ketakutan-ketakutan yang muncul dalam kepalaku. Apakah nanti kamu benar-benar akan memilihku, atau jangan-jangan tetiba kamu bosan, lalu pergi dan semua rencana ini batal?

Semua ini masih menjadi misteri. Dan aku jadi tidak sabar menunggu hari kata-kata “sah ” itu tiba.

Semoga, semoga Allah meridhoi ini semua.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s