Ulah si Belang

Pak Kano tampak gusar, uring-uringan tak jelas karena kucing kesayangannya sudah 15 hari tidak pulang.

“Jom, tolonglah kau carikan si belang, aku khawatir dia masih hidup atau sudah mati”

“Sudahlah pak, nanti juga pulang sendiri”

“Kau ini Jom, kau kan tau si belang sudah seperti anak bagiku. Kalau dia tidak pulang juga, akan kubuat gempar dusun ini”

Pak Kano tampak kesal, karena istrinya tak begitu menghiraukan kegundahan yang mengusiknya beberapa hari belakangan.

Si belang adalah kucing kesayangan. Sejak anak semata wayangnya menikah dan tinggal dirumah sendiri, si belang dirawat dan sudah menjadi sahabat sekaligus tempat Pak Kano mencurahkan segala gundah, risau hati yang ia rasakan.


Azan subuh membangunkan Mak Ijom dari tidurnya. Sang suami tak terlihat di tempat tidur.
Mungkin si bapak sudah duluan ke mesjid, pikirnya.

Air wudhu pagi itu terasa agak berbeda dari subuh-subuh sebelumnya, membuatnya sedikit menggigil. Setelah selesai berwudhu, Mak Ijom pun bergegas menuju mesjid.

Saat hendak melangkah, Mak Ijom kaget bukan kepalang, gravitasi seperti menariknya kuat. Langkahnya terhenti di depan pintu.

“P-Pak”, hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut keriputnya.

Perempuan renta ituΒ hanya bisa mematung, melihat tubuh sang suami terkulai lemas, menggantung di seutas tali pada pohon rambutan disamping rumah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s